Universitas Indonesia akan membangun perpustakaan baru dengan konsep sustanaible building. Hari ini, 01 Juni 2009 akan dilakukan pemancangan tiang pertama, yang akan dihadiri oleh Rektor UI Prof Dr Der Zos Gumilar Rusliwa Soemantri dan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara yang juga Ketua Ikatan Alumni (Iluni) UI Sofyan Djalil.
Fasilitas perpustakaan ini dibangun di atas lahan seluas 2,5 hektar dan merupakan pengembangan
dari Perpustakaan Pusat UI yang sudah dibangun tahun 1986-1987. Luas seluruh bangunannya mencapai 30.000 meter persegi dan ditargetkan
selesai Desember mendatang.
Perpustakaan UI itu akan menyimpan 3-5 juta judul buku dan dapat menampung sekitar 10.000 pengunjung dalam waktu bersamaan atau sekitar 20.000 orang per hari. Gedung perpustakaan juga dilengkapi ruang baca serta silent room bagi dosen dan mahasiswa yang sedang menulis laporan penelitian atau karya ilmiah lain.
Perpustakaan akan didukung sistem information
and communications technology (ICT) mutakhir yang memungkinkan pengunjung memanfaatkan secara leluasa sumber informasi elektronik, seperti e-book dan e-journal. Sistem peminjaman akan berbasis
sepenuhnya ICT serta memiliki akses luas ke berbagai pusat pembelajaran dan perpustakaan lain.

sumber : situs resmi perpustakaan UI

Berita terkait :

1. Universitas Indonesia Bangun Perpustakaan Terbesar

2. UI Begins Work on Gigantic Library

3. Perpustakaan Terbesar Dunia Dihadirkan di UI

Sejak mulai dikelola dan hadir 1 tahun yang lalu weblog ini sudah mulai di upgrade untuk membicarakan cakupan yang lebih luas. Yach…maklum dalam setahun kemarin weblog ini hanya mengungkapkan perjalanan sebuah perjalananan perpustakaan khusus di sisi lain bumi Indonesia.

Kini tidak lagi. Weblog ini mulai membicarakan, mewartakan dan bisa saja mendiskusikan segalanya tentang perpustakaan. Tentang pengembangan perpustakaan dan tentu juga diskusi masalah kepustakawanan. Dalam sub-sub nya juga dilampirkan beberapa info yang mudah-mudahan bermanfaat bagi pengembangan perpustakaan. Ada tulisan menarik para pakar (yang mudah-mudahan akan selalu update). Ada beberapa software otomasi perpustakaan. Ada direktori yang dirujukkan ke site resmi yang bersagkutan. Dan tak kalah menarik adalah kumpulan gagasan para pustakawan di weblognya masing-masing.

Semuanya dihimpun dengan apik sehingga perlu didistribusikan kepada masyarakat. Dengan semangat baru untuk berperan dalam pengembangan kepustakawanan, weblog ini diharapkan menjadi sesuatu yang kecil untuk bisa berperan dalam perubahan besar dalam pengembangan kepustakawanan di masa depan.

Masih dalam suasana penuh keceriaan dalam kelas digilib 2007. Peserta sudah mulai berkunang-kunang melihat layar komputer 7 jam setiap hari selama tiga hari ini. Kita para instruktur juga sudah mulai akrab dengan para peserta.

Materi hari kelima adalah bagaimana informasi dikemas dan disajikan lagi dalam bentuk yang lebih menarik. Ledakan informasi yang begitu dahsyat memerlukan suatu usaha untuk me-managenya menjadi suatu komoditas yang berharga. Selain juga dapat dinikmati oleh semuanya.

Kemas ulang ini juga bertujuan menjadikan informasi menjadi awet dan suatu saat dapat ditemukembalikan lagi dengan tepat dan cepat. Kemas ulang informasi menjadi penting dilakukan saat ini karena memang informasi perlu dikelompokkan berdasarkan subjek yang begitu beragam.

Hari keenam merupakan materi penunjang bagi librarian dalam bergaul di dunia maya. Materi yang diajarkan adalah membuat dan mengelola imel serta weblog. Semua materi tentang digital library semuanya sudah disampaikan dengan baik. Sekarang tinggal mengevaluasi implementasi dari peserta di tempat kerjanya masing-masing. Semoga bermanfaat dan membawa perubahan kepada perpustakaan sekolah.

Sehingga perpustakaan sekolah akan benar-benar menjadi perpustakaan yang “hidup” dengan hasil karya dan kreativitas librariannya. Semoga.

Selamat berkarya !!!

Materi hari keempat kali ini dirasa agak berat bagi peserta. Hasilnya separo dari pesertanya mengeluh kurang paham. Maklum aja karena memerlukan pemahaman tentang bagaimana me-link-kan sumber satu ke sumber yang lain.

Materi hari keempat adalah kemas ulang informasi. Dengan menggunakan beberapa software yang memang masih “baru” untuk peserta diklatnya. Yaitu Microsoft Frontpage dan Adobe Acrobat Profesional.

Tentu saja ini adalah tantangan berat bagi kita para instrukturnya bagaimana membawakan materi yang sulit dengan dikemas agar mudah dipahami. Bisa ga ya? Berhasil ga ya?

Sebenernya waktu yang singkat (6 hari) untuk diklat ini adalah terlalu berat untuk materi yang agak berat juga. Apalagi kalau pesertanya beragam dari berbagai latar belakang.

Yang masih belum paham inilah, yang belum tau caranya copy paste lah, dan permasalahan lain. Jadi sebenernya syarat untuk mengikuti sebuah diklat perlu juga dirumuskan supaya diklat tidak sia-sia dan salah sasaran.

Kalau sudah salah sasaran berarti jadi bermanfaat ga ya?

Hari kedua dan ketiga masih seputar pengenalan dan praktek menggunakan software perpustakaan Athenaeum Light 8.5. Sungguh antusiasme peserta yang menggembirakan saat mereka pada lupa pulang karena asik me-layout dan berpraktek ria.

Seperti biasa, ada yang cepat tanggap dan ada pula yang kurang tanggap. Tetapi pada dasarnya peserta diklat sekarang sudah mengenal dan mengetahui bahwa me-manage perpustakaan ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Mereka juga baru tau ternyata dunia perpustakaan tidak selamanya konvensional dengan layanan manualnya. Ternyata perputakaan juga bisa kayak bank, hypermart yang melayani penjualnya dengan cepat, dan seperti layanan yang berorientasi profit lainnya.

Hari kedua dan ketiga ini pesertanya banyak mengalami langsung proses bagaimana harus membuat katalog, membuat call number, membuat barcode dengan satu aksi saja. Banyak yang masih ga mengira bahwa ini semua dapat dilakukan hanya dengan sekali langkah saja (baca: satu aksi banyak hasil).

Jadi kalau perpustakaan bisa memanjakan penggunanya dengan cepat dan terkesan memanjakan, kenapa harus minder dengan sebutan pustakawan? Ayolah…semuanya bangun untuk menuju perpustakaan yang menjadi idaman masyarakat. Menuju pustakawan yang dicintai masyarakat. Bukan malah malu menjadi pustakawan yang ga mau ngaku bahwa : iniloh saya adalah seorang PUSTAKAWAN!

Next Page »



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.