antara komputerisasi dan manual

hari gene masih pake mesin ketik? walah…susahnya bukan main mesti ya. terlebih bagi anak-anak yang dilahirkan di tahun 1990 ke atas. jangan-jangan malah mereka ga tau apa itu mesin ketik. huahahaha…tahunya kalo pingin mengetik, ya pake komputer ato laptop. itu saja.

disadari memang komputer telah menggeser kebudayaan. kebudayaan yang tadinya ruwet menjadi lebih praktis dan mudah. dan banyak bukti akan itu. tapi apakah dengan adanya komputer semua kegiatan akan dihentikan dan tergantikan olehnya?

kiranya tidak. karena bagaimanapun tenaga manusia masih dibutuhkan. setidaknya dia adalah sebagai penggerak untuk semua kegiatan yang berhubungan dengan komputer. dan tenaga manusia tidak bisa tergantikan dengan komputer yang hanya bisa diperintah dan dijalankan.

perpustakaan yang baik apakah juga harus komputerisasi semua? sekali lagi tidak juga lhoh ternyata. emang sih…di beberapa layanan seperti sirkulasi memang dibutuhkan. tetapi kalo yang berhubungan dengan konsep, pemasaran dan layanan pelanggan apakah dibutuhkan? sebagai alat sih mungkin. karena komputer hanya bisa “membantu” itu semua.

sebagai kukuatan tetap saja faktor manusia sebagai penentu. jadi antara komputer dan manusia (librarian) harus akrab. jaman sekarang perpustakaan tanpa komputer akan mulai tergusur. di sisi lain, pustakawan kalo tidak bisa memanfaatkan komputer sebagai alat bantu ya percuma saja. jadi apakah kita akan tetap mempertahankan cara tradisional dalam memanage perpustakaan? silakan anda kritisi sendiri.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: